zachflazz

ZACHFLAZZ

Senin, 15 September 2014

NINI TLEMBUK

Assalamu'alaikum wr.wb.


Gareng terkesiap ketika menerima sms dari markasnya. Isi sms-nya, “Gareng harap segera merapat, ada surat permintaan dari Nini Tlembuk untuk membantunya dalam peperangan di palagan*.”

*palagan: medan pertempuran

Nini Tlembuk adalah wanita tua berspesies buto yang menjadi komandan kompi pasukan kavaleri* yang ahli memanah dan bermain pedang. Nama lengkapnya: Tlembuk NektibanengdalanGakenengsingnjupuk. Sedangkan Gareng dari kompi artileri jalan kaki dan tangan kosong, yang masih satu kubu dengan Nini Tlembuk.

*buto: raksasa dalam pewayangan
*kavaleri: pasukan berkuda

Menurut berita, musuh Nini Tlembuk dalam peperangan adalah pasukan para jenderal kavaleri yang semuanya jago memanah dan bermain pedang. Gareng yang hanya bisa bertanding dengan tangan kosong tidak ambil pusing, karena toh peran dia dalam perang nanti hanyalah membantu tentara yang dipandegani Nini Tlembuk.

Gareng meluncur penuh semangat menuju medan perang. Pokoknya ikhlas dan maju jalan. Dia mengajak koleganya, Petruk, dari divisi yang sama, kompi artileri jalan kaki dan tangan kosong. 

Gareng dan Petruk langsung menuju tengah palagan.

Tapi di medan laga itu, Gareng dan Petruk langsung celingukan. Di tengah-tengah kelebatan panah dan pedang yang berkilat-kilat, mereka bertanya-tanya dimana gerangan Nini Tlembuk? Bukankah dia yang menulis surat permintaan bantuan perang, malah tidak tampak jidatnya di pertempuran. Lha sementara musuhnya kan para jenderal berkuda yang jago bermain pedang dan panah. Sementara Gareng, juga Petruk, hanya prajurit artileri pejalan kaki yang tidak bisa berkuda dan memainkan panah atau pedang.

Kang, itu ada prajurit anak buah Nini Tlembuk, dua orang ada di sini!” seru Petruk.
“Syukurlah, dimana mereka?”

Dua orang prajurit yang masih tampak belia mendekat ke mereka.

”Kami Kang, kami berdua mewakili Nini Tlembuk.” tukas  seorang prajurit yang bernama Sangut. Di sebelahnya, berdiri prajurit bernama Genggong. Kedua prajurit muda ini anak buah Nini Tlembuk di kompi kavaleri.

“Nini Tlembuk di mana Ki Sanak?"
“Anuu Kang, Yang Mulia Nini Tlembuk sembunyi, nggak berani maju perang. Maaf saya terus terang di sini. Dia sengaja melarikan diri dari perang. Dia sebenarnya ada di markas, tapi ya itu, anu… malah sedang persiapan main kipyik di Alengka nanti malam.”

*Kipyik: judi kopyok yang menggunakan dadu

“Apaa? Dia ada di markas tapi bersiap mau main kipyik? Bukannya tadi dia minta kami untuk membantu dia berperang, sekarang malah melarikan diri dan mau main kipyik?”
“Hebat ya Kang? kami sering lho disuruh perang biar terbunuh di medan laga."
Lho tapi kalian koq nggak mati-mati?”
”Karena kami banyak berlari-lari, Kang. Sprint! Usain Bolt mode on dong Kang.”
“Pantes saja musuh sering mengklaim menang tanpa berperang dan jatuh korban.”
“Memang kampret dia Kang.”
“Bukan kampret, tapi codhot!"
"Betul Kang, codhot."
"Kalo begini caranya sih dia mau membunuh kita di pertempuran ini. Kalian tahu lawan kita sekarang ini para jenderal yang jago berkuda, jago memanah, dan main pedang?”
“Iya kami tahu, makanya Tlembuk sembunyi Kang.”
“Lha kalian bawa kuda nggak?”
“Nggak.”
“Pasukan kavaleri koq nggak bawa kuda. Bawa panah atau pedang?”
“Kami belum bisa bermain pedang dan naik kuda. Kami biasanya bikin rencana dan administrasi di markas.”
“Kalau begitu, Kalian siap buat bertanding tangan dengan kosong?”
Kami juga belum terbiasa bertanding,” Genggong meringis.

Gareng geram dan merutuk. Nini Tlembuk jelas mau mengumpankan dia, Petruk, dan pasti Sangut dan Genggong, biar mereka berempat mati semua di pertempuran.

“ Syuuuuu!” Gareng misuh.
“Nini Tlembuk hanya menitipkan ini, biar dibaca para musuh,” Sangut menyerahkan secarik kertas.
“Coba lihat, apa bacaannya?”

KEPADA PARA MUSUH DI PALAGAN
KALIAN BEGO SEMUA
YANG PINTER CUMA SAYA 
HA..HA..HA..

“Syuuuuu….. dia menulis ejekan ini buat para musuhnya dan mengumpankan kita untuk mempertanggungjawabkan tulisan yang dia tulis? Syuu!”
“Mungkin Kang…hebat ya?”
“Kelakuan! si buto wedok itu tega membunuh teman! Pabupacilat!”

Jadilah Gareng, Petruk, Genggong,  dan Sangut sesaat berlarian menghindari hujan panah beracun.

“Sini Petruk, Sangut, Genggong, merapat, kita berkelahi dengan tangan kosong. Kita lawan para musuh!”

Akhirnya, mereka berempat benar-benar bertempur melawan para jenderal yang berkuda.

Nggak papa kawan, dengan begini kalian akan mahir berperang. Ambil hikmah dari keculasan Si Tlembuk!”
"Siaap! Kita hebat ya Kang?" Genggong menyeringai kegelian.

Mereka berempat pun gagah berani berjuang di medan laga.

Singkat cerita mereka pun memenangkan pertempuran. Meski pertempuran lanjutan pasti akan terjadi lagi kelak.

Dan Nini Tlembuk?

Dia tewas mengenaskan karena kalah main kipyik. (Koq bisa ya?)


---------------------
Di belakang layar, sang dalang tampak memutilasi wayang Tlembuk. Mungkin mau dijadikan rambak goreng. Eh, tapi kulit badak emang bisa dibikin rambak?




Wassalamu'alaikum wr.wb.


Ditulis pada Kamis pekan lalu, tanpa perasaan kebencian sekecil dzarrah-pun. Ini hanya ekspresi sesaat yang bagi saya harus segera diekspresikan, agar tidak lama singgah di dada. Karena saya ingin selalu dada saya hanya berisi organ dalam dan kebaikan saja. 



citizenkompas.com



Kamis, 11 September 2014

BERUNTUNGNYA ENGKAU


Assalamuálaikum wr.wb.



Pekan ini, anak saya Agree menjalani ulangan harian. Ulangan ini rutin dilaksanakan sebulan sekali sebagai pelaksanaan kurikulum sekolahnya. Semalam Agree bilang, sejauh ini ulangannya bisa dilalui dengan baik. Katanya, yang dipelajari di rumah banyak yang keluar pada soal ulangan. Kisi-kisi soal yang dibuat di rumah, hampir semuanya tepat sasaran. 

Jika Agree ditanya siapa yang membuat kisi-kisi yang banyak keluar saat ulangan itu, dia pasti akan lancar menyebut: SEMUANYA. Semuanya yang dimaksud di sini adalah saya, ibunya, dan kakaknya. Kami bertigalah yang selalu mengawal Agree dalam belajar. Kami bertiga seperti official team yang menggadang sang petinju di sudut ring saat pergantian ronde. 

Saya hanya membatin, puji syukur alhamdulillaah, betapa beruntungnya anak ini. Dia bisa belajar di sekolah dengan nyaman, dan selalu didampingi orang-orang yang menyayanginya. Kasih sayang dan totalitas ini yang Insya Allah memberinya energi besar. Saya membandingkan dengan anak-anak yang kurang beruntung di jalanan, yang mungkin sebenarnya pintar dan cerdas, tapi karena tidak terurus dan jauh dari kasih sayang, kehidupannya pun menjadi marjinal. 

Sebagaimana pernah saya ceritakan dalam posting-posting sebelumnya, Agree tidak sepintar kakaknya. Cara berpikirnya tidak secemerlang Arien, dan bahkan cenderung lambat panas. Tapi didorong oleh kesadarannya bahwa dia memiliki kekurangan itulah, Agree selalu membaca kembali materi pelajaran yang diajarkan di sekolah dan selalu meminta didampingi kami -baik secara bergantian maupun dalam formasi lengkap- dalam belajar. Dan dia pun menjadi selalu siap untuk menghadapi setiap pelajaran di sekolahnya. 

Dan untuk itulah saya akan meneruskan tradisi ini.  Saya selalu memegang prinsip: petinju yang didampingi pelatih-pelatih yang solid akan memenangkan pertandingan melawan petinju yang mempunyai pelatih tunggal, apalagi yang tanpa pelatih.   


Wassalamuálaikum wr.wb.