zachflazz

ZACHFLAZZ

Saturday, 1 November 2014

KONTRAKAN (KARENA KITA INGIN MENJADI BAIK 2)

Assalamu 'alaikum wr.wb.


Tetangga saya tergopoh-gopoh mendatangi isteri saya yang sedang menyiram tanaman. Saya yang sedang mencuci motor di sampingnya, nguping saja. 

"Mamah Arien tahu nggak, itu di kontrakan Mamah Arien banyak lho yang pada mandi dan nyuci di situ. Emaknya, adiknya, saudara-saudaranya. Kan mereka pada kehabisan air. Di Mamah Arien aja yang banyak airnya."

Rupanya tetangga saya bermaksud mengadukan salah seorang penghuni kontrakan yang saya sewakan, bahwa saudara-saudara sang penghuni kontrakan, ikut mandi dan mencuci di rumah kontrakan itu.

Ini tanggapan isteri saya:

"Nggak masalah, alhamdulillaah saya bisa bersedekah air. Semakin banyak yang ikutan mandi, malah semakin baik. Akan jadi barakah buat kita semua."

Top. Keren. Juara sekali jawabannya!

Dalam hati saya diam-diam makin mengagumi isteri saya atas segala isi hatinya. Lalu saya pun mengaminkan dengan perasaan yang sangat dalam.  


Wassalamu'alaikum wr.wb.





Saya, saya, saya, saya dan empat Gunung Lokon.
Meski dekat, saya tidak naik karena nyali saya ciut,
tidak berani babarblas dalam skala yang sangat parah. 
Puas?


Thursday, 30 October 2014

MENGEJAR JABATAN




Assalamuálaikum wr.wb.


Ekspresi lugas dan bahagia kita saksikan pada wajah Pak Menteri dan Bu Menteri yang baru dilantik Bapak Presiden. Optimisme tergambar di senyuman mereka. Pun dalam setiap ungkapan mereka yang kita baca di media massa, terpancar ekspresi kebanggaan.  

Banyak yang berbangga, namun tidak sedikit yang berduka sehubungan dengan plotting jabatan menteri itu. Keadaan ini jamak  dan terjadi pula di luar kabinet. Kita terbiasa menyaksikan para politisi, fungsionaris organisasi, bahkan akademisi berebut jabatan. Beberapa partai politik bahkan memilih bermusuhan karena tidak bisa berkompromi dalam penentuan jabatan.  

Di lingkungan kita pun sama dan sebangun. Dalam drama pemilihan kepala desa, suasana sikut kanan-sikut kiri, hajar kanan-hajar kiri menjadi fenomena biasa. Di lingkungan kantor pun sama, kerap terjadi pihak-pihak yang mengeluh bahkan marah, karena tidak terima ada orang lain yang mendapat promosi jabatan, sementara dirinya tidak. 

Ini problema moral. Moral belum memahami esensi sebuah jabatan. Moral yang tidak menganggap jabatan adalah amanah, tapi membacanya sebagai peluang untuk berkuasa dan mendapatkan keuntungan materi dari itu.

Baiklah, sebagai refleksi kita, marilah kita merenung bersama, apakah jabatan itu memang layak kita kejar? Silakan membaca beberapa naqli di bawah ini:
  • Rasulullah bersabda: Setiap pemimpin yang memimpin rakyatnya, pada hari kiamat pasti akan dikumpulkan. Kemudian malaikat mencengkeram tengkuknya dan mengangkatnya sampai ke langit. Kalau ada perintah dari Allah: lemparkanlah, maka malaikat akan melemparkannya ke bawah yang jauhnya adalah empat puluh tahun perjalanan. (HR Ibnu Majah)
  • Jangan menuntut kedudukan dalam pemerintahan, karena jika kau diserahi jabatan tanpa minta, kau akan dibantu oleh Allah untuk melaksanakannya, tetapi jika mendapat jabatan karena permintaanmu, maka segalanya akan diserahkan di atas bahumu dan menjadi tanggungjawabmu sendiri. Dan apabila kau telah bersumpah atas sesuatu,  dan ternyata jika kau melakukan lainnya akan lebih baik, maka tebuslah sumpah itu dan kerjakan apa yang lebih baik itu (HR Bukhari /Muslim).
  • Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) dari hal hal yang dipimpinnya. (HR Bukhari/Muslim)
  • Tiada seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti allah mengharamkan baginya surga. (HR Bukhari/Muslim)
  • Abu Dzar berkata: Ya Rasulullah, tidakkah kau memberi jabatan apa-apa kepadaku? Maka Rasulullah memukul bahuku sambil berkata: Hai Abu Dzar, kau seorang yang lemah, dan jabatan itu sebagai amanat yang pada hari qiyamat hanya akan menjadi kemenyesalan dan kehinaan. Kecuali orang yang yang dapat menunaikan hak dan kewajibannya, dan memenuhi tanggung jawabnya.

Wallahu a'laam, semoga kita tidak tergolong sebagai hamba yang zhalim.
Wasssalamuálaikum wr.wb.

Monday, 27 October 2014

KEMARAU (KARENA KITA INGIN MENJADI BAIK)




Assalamu álaikum wr.wb.


Suatu malam, di sepanjang jalan Pajajaran kota Bogor, beberapa waktu yang lalu.
Saya mengemudikan mobil sambil mendengarkan Michael Jackson yang diputar anak saya, Arien. Entah apa judulnya, tapi saya mendengar shred gitaris wanita Orianthi Panagaris di lagu itu. Memang Jacko tidak pernah salah jika memilih musisi.

Saya juga mendengarkan dialog anak-anak saya dengan ibunya yang duduk di depan.

"Bu, sumur tetangga-tetangga kita pada kering semua ya?" Agree mencolek punggung ibunya.

Arien menimpali tanpa ekspresi, "Sumur di tempat kita banyak airnya, dong."

"Itu karena kita baik. Nggak suka iri hati dan nggak suka dengki. Allah pasti sayang sama kita, karena kita baik. Makanya, tetaplah jadi anak-anak yang baik. Kalian sudah merasakan sendiri, Arien bisa ikutan lomba tingkat internasional, Agree juara terus sekolahnya, rejeki kita cukup, bahkan sampai sumur pun nggak kering meskipun sumur orang lain pada kering. Makanya, tetep jadi anak baik ya, Biar Allah tetep sayang sama kita."

Saya diam menatap ke depan, jalanan yang mulai sepi. Menghela nafas, menghayati kata-kata isteri saya. Dan berdoa agar kami selalu bisa untuk demikian. Aamiin.


Wallaahu a'lam
Wassalamu álaikum wr.wb.