zachflazz

ZACHFLAZZ

Senin, 29 September 2014

SISI LAIN DIPONEGORO






Assalamuálaikum wr.wb.



Kalau ada pahlawan yang pernah saya lukis dan saya tempelkan dalam interval waktu yang cukup lama di dinding kamar, beliaulah ini orangnya. Di mata saya, beliau bagaikan tokoh Zorro atau Lone Ranger yang hadir di alam nyata. 

Beberapa waktu yang lalu saya berkisah tentang beliau di depan anak-anak saya, menjelang mereka beranjak tidur di kamar masing-masing. 

Ya, Bandara Pangeran Arya Dipanagara atau dikenal sebagai Pangeran Diponegoro, merupakan seorang pahlawan nasional yang mengagumkan. Betapa tidak, beliau adalah seorang putera raja yang bisa saja hidup nyaman dan bermewah-mewah di lingkungan istana, tapi beliau memilih menepi dan bergabung dengan rakyat, keluar masuk hutan bertahun-tahun lamanya demi melawan penjajah.

Di balik sejarah klise yang tertulis di buku sejarah, saya mencatat beberapa fakta eksklusif tentang sang pangeran di bawah ini.

DIPANAGARA BUKAN NAMA ORANG, BUKAN PULA DIPONEGORO

Dipanagara terlahir dengan nama Bendara Raden Mas Mustahar, yang kemudian pada masa remajanya berganti menjadi Raden Mas Antawirya. Gelarnya Bandara Pangeran Arya Dipanagara. Jadi Dipanagara bukan sebuah nama orang, melainkan gelar kepangeranan yang lazim dipakai putra raja pada masanya. Pangeran Dipanagara adalah putera Raja Hamengkubuwono III dari garwa ampil (selir), Raden Ayu MengkarawatiDalam kesehariannya, terutama saat terjadinya perang (1825-1830), beliau malah akrab dipanggil Ngabdulkamid. 

JUJUR
Dalam Babad Dipanagara yang ditulisnya sendiri, Pangeran Dipanagara menuliskan otobiografi dengan diselipi beberapa pengakuan. Menurut para sejarawan, babad ini adalah biografi paling jujur yang berbeda dengan biografi pada umumnya yang banyak bercerita tentang pencitraan.

MASA MUDANYA 
Pada masa mudanya, Dipanagara adalah penggemar anggur Constantia dari Afrika Selatan. Dalam babad yang ditulisnya sendiri, beliau juga mengaku pernah bercinta dengan seorang pemijat wanita berkebangsaan China.

ISTERI-ISTERI
Semasa hidupnya, Dipanagara menikah dengan sembilan wanita.

BLUSUKAN
Pangeran Dipanagara sangat mudah mendapat simpati rakyat dan menggalang loyalitas karena beliau lebih sering berada di lingkungan masyarakat daripada di istana. Inilah yang membuat Belanda susah mencari orang pribumi yang hendak dijadikan anteknya pada masa itu.

ALASAN  PERANG DIPANAGARA (PERANG JAWA) 
Di buku-buku sejarah, penyebab perang yang khusus adalah masalah pelebaran jalan yang memangkas tanah milik leluhur Dipanagara. Yang benar adalah Dipanagara karena Inggris dan Belanda melakukan penjarahan besar-besaran di keraton dan gaya hidup Eropa yang masuk ke keraton, yang ditandai dengan maraknya minuman keras dan perzinahan. Baginya, keraton sudah mirip tempat pelacuran. Puncak kemarahan Dipanagara adalah ketika seorang asisten residen Belanda menjadikan isteri selir sang pangeran sebagai gundiknya. 

PERANG SAMPAI URUSAN GARAM
Dalam Perang Jawa (1825-1830), Belanda menggunakan berbagai cara untuk memenangkan perang, mulai Benteng Stelsel hingga melarang produksi garam di Hindia Belanda, dengan maksud memperlemah pasukan, karena orang yang tidak mengkonsumsi garam diyakini akan menderita lemas dan rentan mengalami kram.

PASUKAN GUNDUL
Anggota Pasukan Dipanagara yang berjenis kelamin pria seluruhnya mencukur habis rambutnya.

METODE PERANG 
Dipanagara melaksanakan strategi perang modern, baik metode perang terbuka (open warfare) maupun perang gerilya (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. Beliau juga menerapkan taktik perang urat syaraf (psy war) dan telik sandi (spionase). 

MENGADOPSI STRUKTUR PERANG TURKI UTSMANI

Pernah mendengar Ali Basah Sentot Prawiradirdja? Nama Ali Basah rupanya adalah pangkat dalam pasukan yang mengadopsi dari nama kesatuan Turki Utsmani. Ali Basah adalah komandan divisi, Basah adalah komandan brigade, Dulah adalah komandan batalyon, Seh adalah komandan kompi. 

PASUKAN MUDA

Pasukan Pangeran Dipanegara dalam Perang Jawa didominasi personel-personel muda. Bahkan Ali Basah Sentot Prawiradirja menjadi komandan divisi (Ali Basah) saat berusia 17 tahun.

PERANG JAWA DAN KORBAN 
Perang Jawa adalah perang dengan korban terbesar dalam sejarah perlawanan kepada penjajah. Selama perang ini kerugian pihak Belanda mencapai 15.000 tentara dan 20 juta gulden200.000 orang Jawa gugur karena perang ini. Menurut statistik, setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya. Perang ini pulalah yang membuat Belanda bangkrut.

SAYEMBARA DAN LOYALITAS

Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Dipanegara. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Pangeran Dipanegara. Tapi sayembara ini tidak pernah efektif karena rakyat melindungi sang pangeran.


JIMAT
Sesuai penuturannya di Babad Dipanagara, saat Perang Jawa, semua anggota pasukan menggunakan tasbih yang yang disematkan pada pakaiannya, yang disinyalir membuat Belanda ketakutan karena efeknya disosialisasikan sebagai jimat kebal. 

CITRA BURUK
Bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta, Pangeran Dipanegara dianggap pemberontak karena pernah mengepung kota Yogyakarta selama sebulan dan menghancurkan Belanda plus para begundalnya yang banyak berasal dari kalangan keraton. Karenanya hingga ratusan tahun kemudian, anak cucu Dipanagara dilarang masuk lingkungan istana. Keadaan ini direhabilitasi saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberikan amnesti bagi keturunan Dipanegara. Namun hingga sekarang, gelar Dipanagara sudah tidak dipakai lagi mengingat stigmanya buruk di kalangan istana.

PENGHARGAAN
Selain Gelar Pahlawan Nasional yang disematkan Presiden Soekarno pada tanggal 8 Januari tahun 1955 (tepat 100 tahun wafatnya sang pangeran), meski pengakuan resminya baru pada tahun 1973, penghargaan tertinggi justru diberikan pada 2013 saat UNESCO menetapkan Babad Diponegoro sebagai Memory of the World. Babad Diponegoro merupakan otobiografi klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 1832.

-----------------------
Sumber:  Kuasa Ramalan, Babad Dipanagara, National Geographic

Wassalamuálaikum wr.wb.



susahnya mencari alat peraga tentang sang pangeran.
hingga pake media yang eksotik begini

Rabu, 24 September 2014

BERAKHIR DI OBAT GOSOK

Assalamuálaikum wr.wb. 


Pada dini hari empat pekan yang lalu, sekitar pukul 02.30 WIB, lamat-lamat saya mendengar bunyi pintu pagar berderit. Seperti ada yang hendak membukanya. Saya bangkit tanpa membangunkan isteri saya yang lelap. Saya kumpulkan semua energi yang ada selepas lunglai karena tidur. Lalu saya mengendap-endap keluar kamar, ke arah gordyn jendela depan. Dari balik jendela sepintas saya menyaksikan ada bayangan manusia di area pagar rumah saya. 

Maka saya langsung membuka pintu seketika dan menyeruak ke halaman rumah.

Saya memburu bayangan yang berkelebat, yang kini bergerak di luar pagar. Saya bernafsu sekali ingin menangkapnya. Saya tidak mempedulikan hujan yang cukup deras pagi itu.

Saya juga tidak menyadari kalau lantai yang saya pijak ternyata tergenang air. Saya yang berlari sekuat tenaga tanpa mempedulikan situasi, pun hilang keseimbangan, dan kemudian terpelanting.

Peristiwanya sangat cepat ketika saya merasa terbanting. Jatuh dengan keras. Posisi jatuh saya, dada kiri menghunjam lebih awal dari dada kanan dan perut saya, lalu dagu dan kaki menyusul dan yang terakhir tangan. Dada kiri pun menjadi tumpuan berat badan saya yang tidak lagi langsing. Teknik jatuh yang dahulu pernah saya kuasai, tidak ada artinya sama sekali. Jatuh ya jatuh, sakit ya sakit. 

Seketika saya merasakan susah sekali bernafas. Pusing, kepala berputar, dan mau muntah. Sepertinya saya hampir kehilangan kesadaran. Dada saya terasa nyeri yang teramat sangat. Tapi saya mempertahankan posisi tertelungkup sampai benar-benar merasa stabil. Kata bapak saya dahulu, kalau terjatuh, nikmati dulu jatuhnya, setelah itu baru bangun kalau sudah siap untuk bangun. Logikanya supaya syaraf, otot, dan peredaran darah tidak berubah-ubah secara drastis dari situasi satu ke situasi lainnya. 

Di lantai yang basah itu saya tertelungkup dan merasakan sekujur badan basah karena genangan air.  

Setelah saya pastikan saya tetap sadar, saya pun pelan-pelan bangun. Lalu duduk di kursi yang ada di serambi rumah. Saya bersyukur dalam posisi yang lemah seperti itu sang bayangan berkelebat tadi tidak kembali untuk kemudian menyerang saya. 

Saya mencoba mengurut dada saya. Sakit sekali. Seperti remuk rasanya. Benar-benar sakit dan nyeri yang luar biasa. Saya berdoa semoga saya tidak mati karena peristiwa itu. Ngeri membayangkan anak-anak saya harus kehilangan saya karena mati konyol begitu.

di sini 
Paginya saya tetap bekerja seperti biasa. Dan seperti biasa, saya selalu bisa menyembunyikan keadaan yang saya alami. Saya selalu bisa tegar, seperti bapak saya.

Tapi pikiran saya hanya tertuju ke sebuah apotek di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Sebelumnya saat saya meditasi di rumah, saya punya feeling untuk mencari obat ramuan cina yang biasanya dijual di apotek. Di apotek itu, saya menebak, mungkin ada.

Dan siang itu saya ke apotek yang saya maksud. Dan benar feeling saya. Ramuan cina itu tersedia. Sebotol minyak gosok penawar bengkak dan memar. Dan harganya? Delapan belas ribu rupiah!

Mulai siang itu di kantor, lalu sore setelah mandi di rumah, dan setiap saat saya ingat, saya selalu melumuri dada kiri saya dengan obat tradisional cina itu. 

Dan hari-hari berikutnya saya lalui dengan berdoa dan berdoa. Saya berharap selamat dari peristiwa itu dan dengan perantaraan ramuan cina ini, semoga menjadi obat yang menyembuhkan.

Bisa dibayangkan teman-teman, dada saya ini, setelah kejadian itu, tersentuh balon yang ringan dan lembut saja sakitnya bukan kepalang. Bisa dibayangkan saat isteri saya memeluk dan (maaf) lebih dari sekedar memeluk, seperti apa ekspresi saya. Tapi ya itu tadi, sebagai anak bapak yang bernyali merdeka, saya benar-benar bisa mengelabui siapapun, bahwa sebenarnya saya sedang sangat menderita.

Saat ini hampir pekan keempat setelah kejadian itu. Sejak saya memakai ramuan itu, pelan-pelan semua bagian di dada, saya rasakan membaik dan menuju pulih. Meski saya selalu menyeringai hebat saat ada yang menyentuh dada saya, mendekap, atau lainnya. Tapi saya berusaha untuk benar-benar menguasai medan. Dan saya alhamdulillaah melewati fase itu dengan baik, meski penuh ekspresi menyeringai.

Andai ramuan ini mau go public, 
saya bersedia jadi bintang iklannya, free!! horee...

Dan alhamdulillaah saat ini saya merasakan sembuh total, Insya Allah. Rasa sakit itu sudah tidak ada lagi, tidak berasa apapun. Saya sudah bisa melenting tinggi untuk melakukan smash, berlari kencang, dan tentu siap untuk didekap isteri saya. Saya tidak berobat ke dokter dan hanya mengandalkan obat gosok seharga delapan belas ribu rupiah sebagai media perantara untuk kesembuhan saya. Dan tidak ada orang lain yang tahu sebelum posting ini saya terbitkan.

Tuh, "luka akibat terpukul", special banget kan?

Eniwei, saya mendapatkan hikmah dari peristiwa itu, bahwa kita hanyalah manusia biasa yang lemah dan dekat sekali dengan keadaan bernama celaka. Alhamdulillaah, saya masih beruntung dilindungi Tuhan saya. Segala puji syukur untuk Tuhan yang Maha Hidup dan Maha Jaya.

----------------------
Mungkin dengan jatuh itu, Tuhan telah menyelamatkan saya. Saya barangkali tidak seberuntung sekarang jika harus berhadapan dengan bayangan misterius itu. Ingat, sekarang penjahat hampir selalu bersenjata api. Wallahu a'lam.


Wassalamuálaikum wr.wb.