zachflazz

ZACHFLAZZ

Tuesday, 3 March 2015

MASIH SOAL TV KABEL


 
Bingung mau posting apa, ini aja deh, berita di TV kabel lima tahun lalu, bisa dibuka nggak? wassalamu'alaikum wr.wb.


video

Friday, 27 February 2015

BEBERAPA HAL SOAL TV KABEL



Assalamu álaikum wr.wb.


Meskipun sekarang ada banyak stasiun televisi yang bisa dijangkau dengan antena konvensional, tapi karena beberapa alasan, banyak orang berlangganan TV kabel. Termasuk saya.

Ada beberapa pengalaman penting yang ingin saya bagikan kepada teman-teman di sini soal TV kabel. Silakan simak jika berkenan.



PROVIDER SECARA SEPIHAK MENAIKKAN TARIF 

Saat stasiun TV kabel (provider) secara sepihak menaikkan tarif langganannya, biasanya hanya memberitahukan lewat pesan pada display televisi, bahwa tarif baru akan diberlakukan mulai bulan depan.
Sikap saya: berhenti berlangganan dengan tidak membayar biaya bulanan lagi. Karena menurut saya, ini tidak fair. Bukankah pada saat saya mulai berlangganan, tarifnya sudah ditetapkan secara fixed rate- flat. Tapi jika menurut pertimbangan bisnis sang provider perlu ada kenaikan biaya, silakan saja, tapi saya sebagai pelanggan berhak untuk tidak melanjutkan berlangganan. Atas hal ini, saya tidak mengalami kerugian apapun kecuali saya tidak lagi mendapat hak menonton acara dari provider tersebut. Kerugian justru ada padanya karena peralatan ada di rumah saya, tidak terpakai. Dan saya bisa segera move on dengan provider baru.

 Antena-antena ini bukan karena berlebihan. 
Ini hanya peralatan para provider yang tidak kunjung diambil.


MENGENAKAN TAGIHAN PASCA PEMUTUSAN
Setelah saya tidak membayar biaya bulanan karena sudah "putus" dengan sang provider, pihak provider biasanya menelpon, mengirim sms, atau mendatangi rumah saya. Dan bilang bahwa pihaknya akan mencabut peralatan dan mengancam mengenakan tagihan pasca pemutusan.
Sikap saya: santai saja. Saat mereka menyampaikan tagihannya, bilang saja begini: tagihan tentang apa? Skema berlangganan ini kan berasas prabayar, mana ada istilah tagihan? Tagihan hanya ada pada skema pasca bayar. Makanya berhati-hatilah teman-teman, pastikan skema yang digunakan adalah prabayar. 



PROVIDER MENGENAKAN DENDA/PENALTY

Karena kita tiba-tiba menyatakan tidak berlangganan, pihak provider mungkin saja mengenakan denda/penalty.

Sikap saya: cuek saja. Bilang saja kalau berlangganan itu sepenuhnya hak kita. Penalty tidak pernah diperjanjikan dalam dokumen apapun sebelumnya. Pengenaan sepihak atas denda/penalty dari provider justru berisiko ke perusahaannya, karena bisa saja saya akan menyuarakan kepada teman-teman dan kerabat saya, bahkan mengirim surat terbuka di media massa, bahwa perusahaan ini invalid atau tidak bonafide. Pun perusahaaan bisa kehilangan nama baik dan remuk karenanya. 

Ini contoh sms dari sang provider:


 
Dan ini jawaban dari saya:

mungkin karena sms ini, pihak provider malas berurusan sama saya, 
dan peralatannya pun ngejogrog berlama-lama di rumah saya.



MENGHADAPI DEBT COLLECTOR

Di atas itu sekilas pengalaman saya. 
Sedangkan untuk kasus di bawah ini, saya belum pernah mengalaminya, tapi perlu untuk diantisipasi.

Begini, risiko kita tidak membayar "tagihan" dan "denda/penalty" adalah berurusan dengan petugas debt colector.

Kemungkinan sikap saya: saat debt collector datang, jangan pernah gentar. Hadapi dengan percaya diri dan syukur-syukur lebih garang daripada debt colector-nya. Sampaikan bahwa mereka jangan asal menerima penugasan dari provider, karena sebenarnya tidak ada beban apapun yang terhutang. Sampaikan argumentasi yang agak panjang, pasti mereka tidak paham, karena kekuatan mereka hanya otot. Dan saat mereka melongo, infokan bahwa kita kenal dengan beberapa tokoh misalnya Kapolres, Danramil, raja preman, dan sebagainya. Dan satu lagi, tatap mata mereka saat kita berbicara.  Saya taruhan, debt collector yang berbadan gempal itu akan ciut nyalinya, dan mual karena berurusan dengan kita. 


Wassalamu álaikum wr.wb.

Wednesday, 25 February 2015

BIARKAN MEREKA BERKELAHI




www.blogselebritis, www.youtube.com, www.kapanlagi.com.


Assalamu'alaikum wrwb.


Perang cuit yang melebar ke  perang urat syaraf via twitter (twitwar) antara paranormal Ki Kusumo dengan pesulap Demian Aditya, bagi saya sudah pada taraf yang memuakkan. Tidak bermutu sama sekali. Pun setiap saat kita dijejali pemberitaan tentang mereka yang notabene belum pernah bertemu satu sama lain, tapi gaung pemberitaannya sudah berlebihan.

Yang satu mempertontonkan nyali meradang dengan mengejar yang lainnya tanpa ampun - dengan publikasi habis-habisan. Yang satu lagi membalas dengan kucing-kucingan - lagi-lagi dengan publikasi yang tidak kalah gencar.

Fenomena ganjil terjadi karena faktanya hampir seluruh masyarakat Indonesia tahu kedua orang itu berseteru, sementara yang bersangkutan bahkan belum pernah bertemu sama sekali. Semakin parah saat perseteruan antar ego di dunia maya itu sudah melibatkan ormas yang menjadi pendukung salah satunya.  

Di lain sisi, saat wartawan mewawancarai beberapa sampel publik, banyak orang terutama ibu-ibu terlihat ketakutan dan mencemaskan, khawatir keduanya berkelahi.

Belum lama ini Iwan Fals juga dibombardir Farhat Abbas via twitter. Fans Iwan yang tergabung dalam Oi mendukung Iwan untuk memberi Farhat pelajaran. Tapi rupanya Iwan sudah merasa cukup dibela fans-nya yang bahu-membahu menghajar Farhat di twitter. Maka Iwan memilih diam dan tidak meladeni Farhat. Jika ini yang terjadi di kasus Kusumo-Demian, mungkin perseteruan akan berakhir dengan sendirinya. Masalahnya, baik Kusumo maupun Demian masih berperang sampai sekarang, meski tidak pernah bertemu muka. 

Bagi saya sih seharusnya mereka bertemu. Setelah mereka bertemu, lalu berdialog secara lugas, mungkin ada penyelesaian yang baik dan tidak harus diakhiri dengan kekerasan. Andai harus berakhir dengan perkelahian, ya sudah, selesaikan dengan cara itu. Yang penting tangan kosong dan tidak menggunakan santet atau trik sulap. Setelah selesai, lalu salaman dan jika perlu berpelukan. Selesai dan sportif. Tidak ada dendam. Jika masih menyisakan dendam, ya percuma saja berkelahi. 

Andai kelak anak saya Agree terpaksa harus berkelahi dengan teman atau lawannya, saya akan memberikan keleluasaan. Harus berani untuk bertemu dan berdiskusi. Jika terpaksa berkelahi, ya harus berani, dan harus tangan kosong. Jika perlu saya akan menyaksikan atau menjadi wasit yang adil. Kalau tidak berani, biar saya pakaikan rok sama daster saja untuknya. 

Akhirnya,
Silakan bertemu Kusumo, Demian.  
Maka Kalian berdua akan memenangkannya bersama.
Atau jika tidak, biar saya siapkan rok dan daster saja buat Kalian.


Wassalamu'alaikum wrwb.