zachflazz

ZACHFLAZZ

Wednesday, 25 March 2015

SI TOTO DAN JODOHNYA


Assalamuálaikum wr.wb.



Saat remaja dahulu, saya punya sahabat, Toto namanya. Toto ini sepupu bintang sinetron Berliana Febriyanti. Ibunda Toto dan ayah Berliana kakak beradik. Namun jangan pernah membayangkan wajah mereka mirip. Berliana terlalu manis untuk menjadi sepupu Toto, haha.... Nggak koq, saya bercanda. Paras Toto juga lumayan. Bahkan Toto banyak sekali memiliki kelebihan. Dia ini alim, santun, pinter banget, dan baik banget. Kalaupun ada kelemahan, yang terpaksa dicari-cari, dia ini berkaca mata (dan ini bukan kelemahan bukan?).

Dari dahulu, kesetiaan terhadap komitmennya sangat terkenal. 
Misalnya saat Lia (demikian Berliana biasa dipanggil) yang berdomisili di Jakarta datang berkunjung ke rumah Toto di Cilacap, Toto akan berada di rumah seharian, dan dia akan mengatakan ke teman-temannya, bahwa dia tidak bisa bergabung dengan teman-temannya untuk beberapa saat, karena akan mengawal sepupunya itu, selama di situ. 

Tapi satu hal, dari dahulu karakternya adalah: takut berdekatan dengan wanita. Kami teman-temannya sangat paham jika Toto demikian. Teman-temannya banyak mem-bully Toto dengan tema ini. Bisa dimaklumi, karena teman-temannya berkeyakinan, Toto sering membuang kesempatan. Segala macam cara dilakukan teman-temannya untuk mendekatkan Toto dengan wanita. Wnita manapun. Tapi selalu gagal. Bukan karena sang wanita tidak mau dekat dengan Toto, tapi karena Toto yang takut memulai. Ya mana ada wanita pada masa itu yang agresif menyatakan cinta duluan. Dan akhirnya, bubar jalan selalu. Ujung-ujungnya malah si wanita ikut mem-bully si Toto. Glek, tobaat! 

Toto sebenarnya cukup bisa mendapatkan wanita yang dia inginkan.
Dia cukup bisa bergaul, menyenangkan, jenaka, pintar, alim pula (banyak ayat dan dalil naqli yang dia hafal di luar kepala). Tapi sayang, Toto tidak pernah mau memulai untuk mengejar wanita yang diidamkannya. Hingga wanita yang sebenarnya menjadi impiannya itu dilamar orang lain, demikian seterusnya. Satu persatu wanita itu lewat untuk dipandang Toto, untuk kemudian rubuh dalam dekapan pria lain. Toto selalu gigit jari, gigit tangan, dan terakhir gigit kaki (sorry saya agak emosional, saya selalu gemas jika mengingatnya). Pun padahal saya andaikan jika Toto saat itu mendekati adik perempuan saya, saya akan ikhlas mendukungnya.

Nah, sekarang ini, saat usia Toto sudah berkepala empat, Toto masih berkutat dengan pencariannya. Pencarian yang tidak terdefinisi. Bagaimana pencarian akan menemui hasilnya jika dia tidak pernah memulai. Gadis-gadis singgah di hati dan pikirannya, berganti-ganti, tapi tidak pernah diteruskannya ke ucapan atau tindakannya. Hingga sekarang. Detik ini.

Toto sekarang tetaplah Toto yang saya kenal. Yang jenaka, pintar, alim, dan baik. Juga Toto yang asyik dengan dunianya. Dunia pencarian.

Saya yang lebih muda dua tahun darinya, sudah punya anak remaja yang duduk di kelas tiga SMP. Sementara Toto, bahkan belum mempunyai calon istri. Itu yang tidak pernah terbayangkan dahulu, saat kami bersepeda bersama sambil mengobrolkan wanita idaman.


Wassalamuálaikum wr.wb.
Maka, saya menghimbau kepada rekan-rekan pria yang sudah dalam usia layak nikah dan masih lajang. Jika ada kesempatan menemukan wanita idamannya, ambil segera. Rebut kesempatan atau kesempatan tidak hadir lagi. Nyatakan cinta, lalu lamar.  


Toto nanti membaca posting ini. Saya punya fotonya, tapi
yang bersangkutan tidak berkenan fotonya dipasang,
jadi foto teman Toto saja yang saya pasang.

Monday, 23 March 2015

BANG JARWO

Assalamuálaikum wr.wb.


Saat saya duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar (SD), pada suatu ketika kami siswa di kelas mendapat tugas pada mata pelajaran kesenian. Tugasnya ialah: menggambar bebas. Saya pun bersemangat sekali menggambar tokoh favorit saya, yang saat itu populer sebagai cover buku tulis. Dialah ET, kependekan dari Extra Terestrial, tokoh alien yang tersesat di bumi dan bersahabat dengan anak-anak di planet biru ini.

Saya optimis dengan hasil karya saya itu. Menurut saya, gambar saya mirip sekali dengan tokoh ET.  Teman-teman di kelas pun memuji lukisan saya. 

Dan tibalah saatnya lukisan itu dikumpulkan. Bu Rina, guru saya, seketika menilai semua lukisan yang ditumpuk di mejanya yang ada di depan kelas. Saya berharap-harap cemas. Saya yakin gambar ET saya menjadi gambar yang paling bagus.
Tapi apa yang saya dapatkan? Nilai melukis saya: 5 1/2 (lima setengah). Saya yang biasanya mendapat nilai paling bagus untuk pelajaran melukis, tentu sangat kecewa. Kata Bu Rina, “Gambar manusia koq kayak gini, tumben si Zach gambarnya jelek. Lagi ngambek nih pasti!” Glek. Gemas, kecewa, dan ingin menangis rasanya mendapatkan perlakuan demikian. Sungguh bu guru satu ini saya sesalkan wawasannya. Parah. Pasti tidak pernah melihat tokoh bernama ET. Geram tak berujung.

Yah, dapat dimaklumi, wujud ET memang lebih ke makhluk ganjil dibanding makhluk yang indah. Jadilah saya disangka ngawur dalam menggambar. Saya sempat memberi penjelasan kepada Bu Rina, tapi fatalnya, saya tidak berhasil menunjukkan cover buku tulis yang bergambar ET saat itu. Nasib. 

Perbedaan persepsi untuk sebuah objek lukisan menjadi malapetaka buat saya.

Kasus itu menjadi pelajaran yang sangat berharga. 

Beberapa hari lalu, anak saya Agree mendapat tugas pekerjaan rumah menggambar tokoh kartun. Demi melihatnya menggambar, saya sekilas bertanya, bagaimana wawasan guru lukisnya. Dan saya ada di kesimpulan, bahwa guru lukisnya sangat Walt Disney dan Upin-Ipin minded, identik dengan Bu Rina, sehingga perlu "diberi wawasan". Disamakan persepsinya dalam menilai objek lukisan, demikian barangkali tepatnya. Itu karena saya melihat Agree sedang berusaha out of the box (sesuatu yang layak saya dukung), dengan menggambar tokoh kartun yang berbeda dari biasanya. Dia menggambar tokoh Bang Jarwo, salah satu tokoh dalam film animasi Adit dan Sopo Jarwo yang tayang di MNC TV (jika Mas Yanto biasa bergumam: "Sekarang Bos?", itu beliau nukil dari percakapan khas sahabat Bang Jarwo dalam serial tersebut, Bang Sopo. Saya dianggap Bang Jarwonya, mungkin, huhh).
 


Agree dan Bang Jarwo

Saya pun mengusulkan agar Agree menempelkan foto Bang Jarwo di belakang kertas pekerjaannya itu. Tujuannya agar gurunya paham apa yang dilukis Agree. Untuk memberikan pengantar dan menyamakan persepsi. Persepsi tentang objek yang dilukis. Dan berharap tidak terjadi kasus seperti saya saat jaman kelas 3 SD dahulu.

Bang Jarwo

Wassalamuálaikum wr.wb.

Menyamakan persepsi menjadi sesuatu yang mutlak diperlukan dalam setiap penyelesaian masalah dan dalam kehidupan sehari-hari.  Tidak terkecuali dalam beragumentasi, ngobrol, meeting, berpacaran, bahkan saat bercanda sekalipun.



dari Wikipedia

Wednesday, 18 March 2015

MENCETAK ATLET (2)


Assalamu 'alaikum wr.wb.




Cabang olahraga itu sangat banyak. Olympic Games (Olympiade) bisa mempertandingkan rata-rata 30-an cabang olahraga. KONI sebagai wadah besar olahraga di Indonesia bahkan memayungi tidak kurang dari 50 induk cabang olahraga. Olahraga yang dipertandingkan di Olympiade dan dipayungi KONI ini biasa dikenal dengan sebutan olahraga prestasi.

Dari sekian banyak cabang olahraga prestasi, kita tidak menampik adanya beberapa cabang primadona. Ialah olahraga yang peminat dan atletnya banyak, populer, atletnya berpotensi besar untuk terkenal, dan pertandingannya biasa ditonton orang banyak. 

Saya ingin mengajak teman-teman berandai-andai. Untuk olahraga prestasi ini, jika teman-teman diminta mempersiapkan seorang atlet, dari cabang olahraga apa yang dipilih untuk dibina? 

Saya punya pemahaman sendiri untuk soal ini.

Begini,
Di tengah peminat yang teramat banyak pada cabang primadona tadi, pasti pesaingnya, atau atlet yang berminat pun banyak. Dari pesaing yang banyak itu, maka di atas kertas, susah jika harus bicara prestasi. Tentu sangat berat untuk berkompetisi dengan pesaing dalam jumlah yang berlimpah. Lihat saja cabang sepakbola. Hampir setiap orang menyukai sepakbola. Dan hampir setiap orang akan bangga jika anaknya, pacarnya, kakaknya, atau teman baiknya seorang atlet sepakbola. Demikian halnya bulutangkis, basket, renang, dan cabang-cabang populer lainnya. Susah untuk berkiprah dalam prestasi di cabang-cabang ini.

Dan menurut saya, jika ingin berkiprah dengan orientasi untuk mendulang prestasi lewat sesuatu cabang olahraga, namun dengan kemampuan yang biasa-biasa saja, maka diperlukan strategi dan siasat yang baik.

Saya terinspirasi oleh seorang Sergey Bubka, jawara atletik asal Ukraina untuk cabang lompat galah yang tak terkalahkan. Dia olahragawan idola saya. Bubka tercatat 35 kali memecahkan rekor dunia sepanjang kariernya, dan kebanyakan memecahkan rekor dunia atas namanya sendiri! Dia sangat gagah dan perkasa di lapangan, seolah-olah bertanding sendirian. Semua mata peserta dan official hanya pasrah menatapnya. Dia lagi, dia lagi pemenangnya, di semua event dunia untuk cabang lompat galah.


Сергей Назарович Бубкa - http://atblog.ru
Kenapa fenomena Sergey Bubka terjadi? Saya melihat, karena peminat olahraga atletik untuk cabang lompat galah ini sedikit. Untuk lingkup induk cabang atletik saja, cabang lompat galah, jika dibandingkan dengan nomor lari atau lompat jauh, masih kalah populer. Apalagi jika melebar ke tenis, tenis meja, bulu tangkis, basket, bahkan sepakbola, lompat galah bukan apa-apa. Bubka menekuni cabang yang tidak populer.

Dari sinilah saya mencari celah.
Meski ini urusan yang utopis belaka, saya masih ingin mencetak anak-anak saya sebagai atlet. Omong kosong? Hehe, memang. Biar saja. Memang ini hanya iseng-iseng berhadiah koq.


Saya berangkat dari cabang olahraga yang saya nilai jarang peminatnya. Ini dia. Saya mengenalkan anak saya Agree untuk cabang yang satu ini. Tolak Peluru. Sambil berolahraga, saya membentuknya sesuai keinginan saya. Bagaimana teknik tumpuan yang baik, sikap badan yang menjadi awalan dalam tolakan yang baik, dan melempar dengan jauh. 

Saya mengkondisikan Agree pada peluru seberat 2 kilogram. Menurut informasi, dalam lomba antar SD biasa dipertandingkan tolak peluru dengan berat peluru 3 kilogram. Pelan-pelan, kelak akan saya kondisikan Agree untuk peluru seberat 3 kilogram itu.



Indahnya mengelola anak-anak yang patuh.


Nah jika sudah begini, saatnya menginformasikan kepada guru olahraganya. Menyatakan bahwa jika ada persiapan untuk lomba atletik, silakan anak saya ini diadu dengan calon wakil sekolah yang lain. 

Selanjutnya silakan bergulir. Andai Agree terpilih tentu baik, itu yang saya harapkan. Andai tidak pun tidak apa-apa. Namanya juga berupaya koq. Yang penting sehat. Prestasi menjadi ekses kejutan jika memungkinkan. 


Wassalamuálaikum wr.wb.


peluru itu tersimpan baik meja belajar Agree