zachflazz

ZACHFLAZZ

Friday, 3 July 2015

SAYA TIDAK MELALUI JALAN TOL CIPALI


Assalamu’alaikum wr.wb.


Di penghujung Ramadhan ini, Insya Allah kami sekeluarga akan menjalani sebuah ritual sosial tahunan. Festival Mudik Tingkat Nasional. Pulang kampung ke Jawa Tengah. Ke Tegal - kampung halaman isteri saya, lalu ke Cilacap - kampung halaman saya. 
...
Ya, mudik. Awalnya merupakan budaya yang saya tolak (karena saya sempat menilainya sebagai sebuah kebudayaan cengeng dan latah – sehingga pada tahun-tahun awal saya tinggal di sini, saya tidak mudik saat lebaran), tapi kemudian saya terima karena esensi silaturahimnya yang luhur dan indah. Maka jadilah mudik menjadi bagian dari budaya saya, kami sekeluarga.
...
Perjalanan mudik tahun ini terbayang semakin lancar. Karena pada jalur yang saya lalui, yaitu jalur Pantai Utara Jawa (Pantura), telah dibuka sebuah jalur alternatif yang mampu mempersingkat perjalanan hingga 2-3 jam. Itulah jalan tol  Cikopo-Palimanan (Cipali) yang disinyalir mampu mengurai kemacetan di Pantura hingga 40%. Hebat.
...
Terbayang di pikiran saya, dari Bogor kami sudah dijemput oleh sebuah jalan membentang yang akan mengantar kami ke Jawa Tengah. Dari Bogor ke Cikampek, lalu dari Cikampek ke Palimanan, dan begitu keluar tol Palimanan, Jawa Tengah pun menjelang. Jarak Bogor dan kampung saya pun terasa sangat pendek. Mungkin hanya empat sampai lima  jam saja perjalanan dari Bogor ke kampung isteri saya, plus tiga jam jika hendak ke kampung saya.
... 
Tapi, bayangan saya tentang perjalanan singkat ini tidak didukung anak saya, Arien. Ini dia si penggemar kemacetan. Menurutnya, seni-nya mudik akan hilang jika perjalanan lancar dan tidak macet. Mudik baginya adalah kemacetan, dan itu sangat dinikmatinya. Nah! Maka dia pun mengusulkan untuk tetap melalui jalur reguler Cikopo-Pamanukan dan seterusnya, yang selama ini menjadi langganan macet, tidak melalui tol Cipali. Meski kadar kemacetannya diprediksi turun hingga 40%. Hadeuhhh, susahnya menghadapi selera anak saya yang satu ini.
...
Dan usulan Arien ini, ternyata mendapat dukungan dari isteri saya. Meski dari perspektif alasan yang berbeda. Isteri saya mencemaskan statistik kecelakaan di Cipali yang ada di ambang tidak wajar. Seperti kita ketahui, pada sepuluh hari pertama setelah jalan tol itu diresmikan, sudah terjadi kecelakaan sebanyak 30 kali. Tragis memang. Maka demi menghilangkan bayangan trauma ini, isteri saya pun mengusulkan untuk melalui jalur yang diusulkan Arien. 

Bagaimana dengan Agree, anak kedua saya? Ahh, kalau dia sih jarang ada aspirasi. Terserah katanya. Yang penting nyampe selamat. Lalu kenyang. Simpel.
...  
Lalu bagaimana dengan saya? 


Saya pada akhirnya pun sudah memantapkan diri untuk, Insya Allah, mendukung usulan Arien dan ibunya. Saya tidak akan melalui jalan tol Cipali tahun ini. 

Apa pasal? 
...
Saya memutuskan untuk tidak melalui jalan tol Cipali setelah saya membaca dan mendengar, telah terjadi masalah dalam pembangunan jalan tol ini.

Ada ketidakadilan terungkap di sana.   


Adalah pembebasan tanah untuk membangun jalan tol ini, telah melukai hati masyarakat yang tanahnya terkena imbas pembangunannya. Warga masyarakat yang mempunyai lahan itu, diberikan ganti rugi dengan angka yang sangat tidak layak. Menurut data terpercaya, mereka hanya diberikan ganti rugi pada kisaran 18 ribu sampai 40 ribu rupiah per meternya. Subhanallaah.

Ganti rugi per meternya ini hanya cukup untuk beli bakso! demikian ungkapan yang populer di kalangan mereka saat ini.


Mereka mengorbankan lahan yang semula produktif menghasilkan padi-palawija dengan uang ganti rugi yang tidak layak. Mereka menerima uang ganti rugi dengan terpaksa, dan tentu menyisakan rasa tidak ikhlas yang berkepanjangan. 

Inikah kezhaliman? Perbuatan aniaya? 
Saya rasa iya. Saya memang tidak dalam kapasitas untuk memvonisnya. Tapi gejala menghargai semeter tanah dengan angka yang tidak jauh dari nilai selembar hingga empat lembar uang bergambar Sultan Mahmud Badaruddin, jelas perbuatan semena-mena. Sementara menurut masyarakat sekitar, harga tanah di sana: sekurang-kurangnya lima ratus ribu rupiah permeternya. Nah.
...
Saya tidak melihat subyek di sini. Siapapun dia, pemerintah atau swasta, dalam hal ini tentu telah melakukan tindakan semena-mena, kezhaliman.

Saya pun hanya bisa berempati dan bersolidaritas secara moral. Kami tidak akan melalui jalan tol Cipali untuk kali ini. Tidak elok rasanya meluapkan euphoria mudik di atas penderitaan orang lain. Dan sembari berdoa, semoga permasalahan ini akan terselesaikan, dan tidak ada sesuatu pihak pun yang merasa terzhalimi. Aamiin.
 ...
Saya juga masih merenungkan ini: bukankah perbuatan menzhalimi orang lain akan dikutuk Tuhan. Dan doa orang yang terzhalimi, meski dari kalangan tidak shalih pun, akan sangat didengar Tuhan? Saya takut terlibat dalam doa-doa mereka yang terzhalimi. Doa-doa mereka yang tidak jauh dari kutukan. Na'udzubillaah. 
  ...
Wallahu a'laam
Wassalamu’alaikum wr.wb.

---------------------
“Hendaklah engkau waspada terhadap doa orang yang dizhalimi sekalipun dia adalah orang kafir. Maka sesungguhnya tidak ada penghalang di antaranya untuk diterima oleh Allah.” (HR. Ahmad)
 ...

“Doa orang yang dizhalimi adalah diterima sekalipun doa dari orang yang jahat. Kejahatannya itu memudaratkan dirinya dan tidak memberi kesan pada doa tadi.” (HR at-Tayalasi)
  ...
“Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang dizalimi. Sesungguhnya doa itu akan naik ke langit amat pantas seumpama api marak ke udara.” (HR Hakim)
 
“Takutlah kalian pada kedzaliman karena kedzaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat." (HR Muslim)


“Sesungguhnya kalian pada hari kiamat diperintahkan untuk mengembalikan semua hak yang diambil kepada yang berhak, sehingga kambing yang tidak bertanduk karena ditanduk yang lain, diberi hak untuk membalas kepada kambing yang bertanduk.” (HR Muslim)
...
"... Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil (zhalim). Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al-Maidah : 8)

 


Tuesday, 30 June 2015

MAHFUD YANG TULUS



Assalamu’alaikum wr.wb.


Bagi masyarakat Bogor, khususnya yang sering melintasi Jalan Juanda, tentu tidak asing lagi dengan figur ini. Dia relawan pengatur lalu lintas yang bertugas di dekat Hotel Salak, atau sekitar 50 meter dari Kantor Walikota Bogor, tidak jauh dari gerbang utama Istana Bogor.

Mahfud, demikian namanya. Selepas menjalani pekerjaan sebagai kuli panggul di Pasar Anyar, sejak 1995 dia mulai berkiprah membantu mengatur lalu lintas. Gesturnya kocak. Mulai merentangkan tangan, menggoyangkan badan, berlutut, berjoget, berjingkrak, dan sebagainya, dalam mengatur lalu lintas. Jika ingin menyaksikan aksinya, silakan ketik kata kunci “relawan pengatur lalu lintas di Bogor” di kanal Youtube. 

Sejak tahun 2004, Mahfud mendapat seragam dan emblem resmi dari Polresta Bogor, sehingga keberadaannya di jalan, telah absah. Mahfud pun sudah beberapa kali mendapat penghargaan sebagai Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas (Supelpas) dari Kapolres Bogor Kota dan Kapolwil Bogor, serta penghargaan dari Wali Kota Bogor saat Hari Ulang Tahun (HUT) Bogor beberapa waktu lalu.

Menurut Mahfud, dia menjalani kehidupannya tanpa banyak target, yang penting tulus dan tawadhu’, maka Tuhan akan melihatnya. Katanya hidup ini enak jika dijalani dengan tanpa pamrih, mengalir, dan selalu gembira. Baginya, yang penting anak-anaknya yang empat orang itu bisa sekolah, itu saja sudah membahagiakannya.

Sederhana.

Mahfud pun selalu melakukan jamaah shalat subuh, dan setelahnya dia membantu sang isteri menyiapkan nasi uduk dan gorengan untuk dijual. Kemudian dia pun berangkat mengatur lalu lintas yang dijalaninya dari pukul delapan hingga dua belas siang.

Tidak rumit.  

Namun siapa sangka pengabdiannya di jalan dan segala ketulusannya itu mendatangkan keberuntungan. Beberapa televisi swasta mendatangi rumahnya untuk meliput kehidupan sehari-harinya. Dia pun beberapa kali diundang ke acara talk show dengan host orang-orang ternama. Menurutnya, ini aneh mengingat dia bukan siapa-siapa dan hanya seorang relawan yang kocak saja.

Dua dari beberapa talkshow yang menghadirkan Mahfud.
sumber: Youtube/Net TV
Beberapa waktu lalu, dia pun diundang di acara music “Dahsyat” yang kemudian mengguyurinya dengan hadiah jutaan rupiah. Masya Allaah. 

Diculik Siti Badriyah.
Mahfud bersama keluarganya di acara "Dahsyat".

Dan, kita tunggu saja, jangan-jangan tawaran bermain sinetron pun akan datang padanya. Mahfud rupanya sedang memetik buah dari benih ketulusannya.
   
Wallaahu a’laam  
Wassalamu’alaikum wr.wb.
----------------------------
Rasulullah Saw bersabda, “Setiap masa ada orang sangat dekat dengan Allah. Kalau salah seorang di antara mereka mati, maka Allah akan menggantikannya dengan orang yang lain. Begitulah orang itu selalu ada di tengah-tengah masyarakat. Orang ini mencapai kedudukan yang tinggi bukan karena banyak shalatnya, bukan karena banyak puasanya, bukan pula karena banyak ibadah hajinya, tetapi karena dua hal, yaitu memiliki sifat kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada sesama.