zachflazz

ZACHFLAZZ

Sunday, 25 January 2015

LUKISAN BERSEJARAH



Assalamuálaikum wr.wb.


Dari kecil, anak saya Agree tidak menaruh minat di bidang seni lukis. Ketika saya belikan buku gambar pun, paling-paling dicuekin atau diisinya dengan coret-coretan yang tidak terarah. Meski demikian, Agree sering melihat kakaknya, Arien yang melukis di sampingnya. Dia bahkan rajin menemani kakaknya itu mengantar ke kelas melukis di sebuah sanggar.

Hingga suatu saat, tepatnya 20 Juli 2008, saat Agree menjelang berusia empat tahun. Anak itu terlihat serius melukis sesuatu. Melukis mobil, katanya. Teman-teman bisa menyaksikan karyanya itu pada foto di atas.

Apapun bentuk lukisannya, saya mengapresiasinya. Saat dia selesai melukis, saya langsung menggendong badannya, dan bilang kepadanya, "Sekarang hadir lagi pelukis baru di rumah ini yang lukisannya keren banget."

"Pasang dong di dinding!" saya bilang begitu.
Maka Agree pun dengan bangga menempelkan lukisannya itu di dinding kamar. Dinding yang saat itu penuh dengan coretan-coretannya. Cukup dengan selotip seadanya. Biar saja, semaunya, itu juga bagian dari seni bukan?
Setelah itu dia pun keluar rumah untuk bermain. Dan setiap beberapa menit, dia masuk ke dalam rumah, hanya untuk menengok hasil karyanya itu. Hal itu diulanginya berpuluh kali dalam sehari. Dia bangga atas karyanya. Karyanya yang dihargai bapaknya.

Sejak saat itu grafik aktivitas melukisnya pun naik. Meski kadang turun juga, sesekali apatis. Tapi bagi saya, momentum sudah didapat. Dan saya menganggap inilah titik awal anak saya mulai menyukai lukis.

Dan sekarang, Agree sudah bisa melukis. Karya lukisannya cukup banyak, dan prestasinya pun lumayan baik saat mewakili sekolahnya. Saya sering menceritakannya di blog ini. 

Point penting buat saya adalah, saat karya anak-anak kita diapresiasi, maka minat yang tadinya tidak ada, menjadi ada, lalu tumbuh dan bisa saja berkembang. Dan saya yakin, saat siapapun kita dorong, pasti dia akan bergerak ke depan. Insya Allah.


Wassalamuálaikum wr.wb.



Ini yang pakai krayon


Ini yang pakai cat minyak





Wednesday, 21 January 2015

KANGEN RUMAH


Assalamuálaikum wr.wb.



Foto di atas ialah prasasti tua yang ada di rumah orang tua saya di Cilacap. Simbol mengenai selesai dibangunnya rumah itu. Silakan saksikan prasasti dari kayu trembesi ini, pada foto di atas, berangka tahun 1900. Ini lebih tua daripada bangunan legendaris di Semarang, Lawang Sewu yang prasastinya bertuliskan tahun 1907.

Di ruas kiri-tengah tertulis "TOEKANG" yang berarti tukang yang mengerjakan rumah itu. Sedangkan yang ruas kanan-tengah ialah nama buyut saya (kakek dari ayah saya). Saya hanya terngaga, karena saat itu, tahun 1900, mereka sudah mengenal tulisan. Susah dibacanya? Terang saja. Itu karena saat prasasti ini dicat ulang beberapa tahun kemudian, sang tukang (bukan tukang sebelumnya) ternyata tidak bisa baca-tulis, jadilah ruas-ruas yang dicat pun menjadi tidak sinkron dengan huruf-huruf yang ada. Hehe... unik kan?

Ya, saya menulis ini karena saya sedang rindu sekali dengan rumah itu. Selama kurang lebih sembilan belas tahun saya tinggal di rumah klasik itu. Rumah yang jika berada di dalamnya berasa sejuk. Yang membuat teman-teman saya betah berlama-lama di dalamnya. Dan yang menghasilkan inspirasi sepanjang masa untuk saya.

Sampai saat ini, tiang-tiang penyangga rumah masih menggunakan kayu orisinil yang sangat kuat. Saking kuatnya, sampai sekarang, jika kita memasang paku di permukaannya, hampir selalu bengkok. Silakan mampir ke sana jika ingin membuktikannya.

Satu lagi,  rumah ini sangat sejuk meski tidak ada AC atau kipas angin di dalamnya. Ini refleksi buat saya, kenapa saya yang membuat rumah di era sekarang, tidak bisa sesejuk rumah itu. Jangan-jangan, saya masih belum benar dalam membuat rumah. Dalam arti, barangkali saya masih menggunakan ketamakan, nafsu, atau rejeki yang belum sepenuhnya benar saat membuatnya. Tidak sebagaimana rumah orang tua saya. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa saya.


Wallahu a'lam
Wassalamuálaikum wr.wb.

Sunday, 18 January 2015

KOMPENSASI DARI TUHAN (2)

(Lanjutan dari tulisan BILUNG dan KOMPENSASI DARI TUHAN -1)


Assalamuálaikum wrwb.


Hari Minggu jam sembilan nanti (tulisan ini saya buat beberapa jam sebelumnya) saya mendapat undangan sebuah pertemuan. Saya diundang dalam kapasitas sebagai orang tua dari anak saya, Agree. Tidak hanya saya, kepala sekolah Agree pun diundang dalam acara tersebut. Pertemuan itu menindaklanjuti hasil seleksi penjaringan siswa untuk bidang studi matematika, yang diikuti Agree beberapa waktu lalu. Kejutan buat saya, karena Agree berhasil lolos seleksi. Padahal menurutnya, saat itu materi soalnya "tidak berperikemanusiaan". Agree bilang jumlah soalnya banyak, semuanya essay, semuanya susah, dan semuanya berbahasa Inggris. Puas. 

Saya membayangkan kesulitan Agree saat menghadapi pekerjaan jenis ini. Lihat saja ekspresinya usai menggarap soal saat itu, pada foto di bawah ini. Dan malamnya pun dia demam. 


Saya surprise sebab saya menyadari, bahwa sebenarnya Agree tidak cukup piawai pada bidang studi matematika. Dia alhamdulillaah bagus di pelajaran hafalan, tapi kurang brilian di bidang eksakta. Namun alhamdulillaah, semua telah dilaluinya dengan baik. Menurutnya ini karena dia sudah mematuhi tips-tips yang diberikan Arien, kakaknya. Alhamdulillaah, trima kasih Rien!

Nah, Insya Allah setelah pertemuan nanti, Agree sudah termasuk siswa yang dipersiapkan untuk mengikuti seleksi dalam rangka lomba matematika tingkat internasional saat diperlukan nanti. Dan untuk itu tentu ada konsekuensi pembinaan yang harus diikuti Agree rutin setiap pekannya. Ke depan, hari Sabtu-Minggunya akan banyak dilewatkannya dalam program pembinaan. Hati saya mengatakan ini mengenaskan, karena dia akan kehilangan waktu liburnya dan kehilangan kesempatan bermain bersama teman-temannya. Tapi hati saya yang lain mengatakan, ini akan menjadi waktu libur yang mengesankan, jika Agree menikmatinya dan menemukan chemistry yang indah di lingkungan barunya itu.    

Dan sekarang kesempatan terbuka lebar di depan Agree. Jika dia bisa mengikuti dan eksis di tengah persaingan, mungkin saja dia bisa seperti Arien yang pernah beruntung pergi ke luar negeri karena matematika (bisa dibaca di posting ini). Atau misalnya Agree tidak seberuntung Arien pun, dia tetap memperoleh manfaat yang besar karena berkesempatan mendalami matematika, yang selama ini tidak begitu disukainya.

Tapi lagi-lagi, saya tidak akan pernah memaksa Agree untuk tetap eksis di sini. Seandainya nanti Agree tidak kuat dalam program pembinaan yang diikutinya, saya akan mendukung saat dia menyatakan kesulitan dan keluar. Tapi jika Agree tetap bersemangat mengikuti program ini, maka sayalah orang tua yang paling komit untuk mendampinginya tanpa kenal lelah. Wait and see, yang pasti puji syukur alhamdulillaah, Tuhan Maha Kasih Sayang kepada umatnya yang ikhlas.


Wassalamuálaikum wrwb.
------------
Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan meminta pendapat kepada saya mengenai waktu liburnya yang terenggut karena kesibukan kuliahnya, tulisan ini menjadi jawaban saya.