zachflazz

ZACHFLAZZ

Rabu, 09 Januari 2013

MENTARI DI GUNUNG MERAPI (2)



(BAGIAN KEDUA DARI DUA TULISAN)


Shelter 2 dan Shelter 3 dilalui Rino dan ayahnya tanpa hambatan. Mulai Shelter 3 ini, ketinggian sudah melebihi 2000 meter dpl. Sang ayah masih terlihat tegar tanpa ekspresi kelelahan yang berarti. Sedangkan si anak tampak kelelahan sekali. Pendakian gunung pertamanya ini terasa sangat meletihkan. Keringat mengucur dalam udara dingin yang membekap. Tapi itu semua tidak dikeluhkannya. Berjalan dan berjalan, bahkan ngetrekHingga mereka mencapai sebuah tanah lapang yang rata berbatu-batu dan berpasir.

Tempat ini bernama Pasar Bubrah. Kita istirahat dulu di sini. Setelah itu kita ngejar sunrise di atas”. 
"Ya Pak, bagus, saya capeek banget."

Mereka bersandar di balik Watu Gajah, sebuah batu berukuran sangat besar yang menjadi ikon Pasar Bubrah, demi untuk berlindung dari udara dingin dan terpaan angin yang cukup kencang pagi itu. Sementara arloji Q&Q menunjukkan tepat pukul setengah empat pagi.

Kita masih satu jam lagi untuk sampai di puncak. Hati-hati saat merayap ke atas nanti. Pasirnya mudah longsor.”

Ayah Rino mengeluarkan kompor rimbanya, lalu mulai memasak air dan supermi.
Semangkuk supermi rebus dan secangkir kopi jahe pagi itu tidak hanya memberikan asupan tenaga, tapi juga dukungan moral luar biasa buat Rino. Itu karena kebersamaan dengan seorang ayah yang selama ini dipandangnya kaku, tapi ternyata sangat luwes tanpa tanding. 

Setengah jam berada di Pasar Bubrah, mereka mempersiapkan pendakian di step terakhir dari Plawangan, batas nyata daerah vegetasi dengan daerah tandus vulkanik. Setelah shalat Shubuh berjamaah, lalu mendirikan bivak kecil, dan menyimpan perbekalan pendakian di dalamnya,  mereka yang masing-masing membawa  kantong air dan makanan kecil, pelan-pelan mendaki puncak melalui tanah hitam dengan kemiringan sedang, namun labil dan licin berpasir. Sang ayah berada di depan, sementara Rino mengikutinya membungkuk dan sesekali merangkak di belakang. Rino merasa sangat aman karena ayahnya sudah mengikatkan tali di pinggangnya ke pinggang Rino.

Mereka mendaki… 
mendaki… 
dan mendaki…
tanpa kenal lelah, meski rileks, tanpa kenal capek, meski nyantai.

Dan… 
Sampailah mereka di puncak. Puncak Gunung Merapi.
Gunung berapi paling aktif di muka bumi dengan ketinggian 2911 meter dpl.

“Lihat Nak, di sekeliling kita!”
“Wahh... ", Rino membelalak. "Kayak di surga...”
Pertama kali, Rino disuguhi pemandangan fantastis sebuah puncak gunung yang bertebing-tebing, berpadu dengan sekumpulan awan di sekelilingnya, dan tanah magnetik hematit yang memukau pandangan siapaun yang melihatnya.
Kawahnya di bawah itu.
Wahh, indaah sekali. Dingin sekali di sini.”
"Kalo pengin panas, di kawah sana. "
Rino tergelak.

Menakjubkan sekali pemandangan di depan mata Rino. Tanah menghitam yang berselimut batu dan pasir dengan bau belerang yang khas, seperti permadani alam yang menghampar mulia di puncak perkasa ini. Gunung yang digambarkan penuh murka selama ini, ternyata cantik molek tergolek indah pasrah di depannya.  

Dari Merapi memandang Merbabu 

Di depan matanya, matahari mulai tersenyum sesaat setelah bangun dari tidurnya. Rino menyeka air matanya. 
Kenapa menangis?” ayahnya memegang tengkuk remaja itu,  “Laki-laki pantang menangis.
Saya bahagia sekali.
Ayahnya mengusap rambut Rino.
Kecuali karena itu”, kata ayahnya, tersenyum.

Lihatlah, kebayang akan menyaksikan pemandangan seindah ini?”, 
ayah Rino menebarkan pandangan. Rino mengusap matanya. Takjub saat melepas pandangan ke rusuk-rusuk langit tanpa batas di latar puncak yang menakjubkan. Rasa syukur, bangga, dan kagum bercampur menjadi satu. Hamparan awan nampak seperti sekumpulan biri-biri yang bergerak berlarian di bawah sana. Gunung Slamet, Sindoro, Sumbing, Merbabu, Ungaran, Telomoyo, dan Lawu, seolah berkumpul dan bermain bersama di arena angkasa, dan bergantian menyapanya.

Lega sekali perasaan Rino. Semua ekspresi yang tersimpan dalam sekam lubuk hati, kini tersalur damai melalui pandangan mata. Segala emosi yang tersisa dalam palung dada, mengalir dalam senyawa hembusan karbondioksida dari hidungnya.  

Satu gunung telah dia taklukkan. Dalam usia 15 tahun, dia sudah menaklukkan Gunung Merapi, gunung terganas di dunia.

Bapak, kenapa bagus banget ya di atas gunung?
Kamu merasa kecil di sini?
Rino mengangguk.
“Kamu merasa tambah tebal imannya bukan?”
Rino kembali mengangguk.

Nanti kalau kamu udah SMA, bapak pengin ajak kamu ke Gunung Slamet. Di sana lebih berat medannya. Lebih berat lagi Semeru. Gimana?
Mau bangeet!
Pernah nggak kepikir bakalan naik gunung seperti ini?
Belum pernah. Seminggu lalu saat bapak pulang, saya juga belum kepikiran apa-apa.”
Menyesal meninggalkan acara dengan teman-temanmu piknik ke Jakarta?”
“Sama sekali tidak.”
Mereka tertawa berderai.
Tak pernah mereka sedekat ini sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam suasana bahagia, sang ayah memeluk anaknya.

Sang ayah melanjutkan, “Nah, itu dia, yang nggak kepikir saja bisa, apalagi yang sudah kepikir. Inilah bukti sebuah pencapaian. Susah memang pada awalnya, tapi jika kita tekun menjalaninya, pasti bisa! Pokoknya, jika kamu mempunyai cita-cita, kejarlah cita itu sampai dapat!” 


Puncak Garuda

Mereka berdua duduk bersisian di puncak tertinggi Gunung Merapi. Puncak Garuda.
 “Kamu besok akan lomba bukan? Kapan?”, tanya sang ayah.
Dua minggu lagi.”
Tingkat Kabupaten ya?
“Iya. Kalo dapet juara 1, maju ke tingkat Provinsi. Kalo di Provinsi juara lagi, maju ke tingkat Nasional di Jakarta”.
Menang di tingkat Kabupaten juga udah bagus, Nak.”
Enak kalo sampai juara di Jakarta, Pak. Bisa diundang Presiden, diajak makan malam, dikasih uang banyak.
Aamiin. pokoknya fokus di tingkat Kabupaten dulu, semoga menang.
Rino mengangguk. Di dadanya menggumpal semangat baru yang membara. Rasa percaya dirinya menjadi berlipat ganda. Dalam hati bertanya, apakah si ayah mengajaknya naik gunung ini untuk memberikan motivasi yang luar biasa seperti ini, sesaat menjelang dia lomba? Dia bergumam sendiri, lalu mengangguk-angguk sambil menyaksikan awan indah yang tertata di depannya.

Berdoalah di sini, di Puncak Garuda ini”, sang ayah menepuk bahu remaja itu.

Rino berdiri sambil berpegangan kuat ke batu yang menyempil di puncak mempesona itu. Lalu dia pun berteriak lantang ke atas.

“Tuhan, saya ingin menjadi anak paling pinter se-Kabupaten. Juara 1 Lomba se-Kabupaten, dua minggu lagi!”

“Aamiin”, ayahnya tersenyum. “Kurang tinggi keinginanmu!”, ayahnya berteriak.
“Ya Tuhan, saya ingin menjadi anak paling pinter se-Indonesia!”
“Aamiin!” Rino berpaling ke arah ayahnya yang tersenyum. 
"Ulangi lagi doamu, kali ini dengan penuh konsentrasi, ambil nafas panjang, dan hayati dalam-dalam!", teriak ayahnya keras melawan angin yang kencang menerpanya. 
Sambil memejamkan matanya, Rino mengeraskan suaranya, tapi memperlambat temponya:
"Ya Tuhan, saya ingin menjadi anak paling pinter se-Indonesia!”
Ayahnya tersenyum sambil menepuk bahunya. Ini saat paling membahagiakan buatnya. Berbangga menyaksikan ayahnya berkaca-kaca. Tapi dia belum puas hanya membuat ayahnya berkaca-kaca.


Tuhan, di Puncak Garuda ini, saya berdoa, saya ingin bisa menjadi anak yang bisa  membahagiakan bapak dan ibu saya selamanya.”

Dan, untuk pertama kalinya dalam sebuah sejarah hidup, Rino menyaksikan ayahnya yang tadi berkaca-kaca, kini meneteskan bulir-bulir air di pipinya. Tangis keharuan. Tangis yang gagah. Tangis di atas puncak yang sama gagahnya dengan sang ayah.

Bapak bisa menangis juga, pikir Rino.

“Tidak pernah senyaman ini untuk berdoa”, ujar sang ayah.
Rino meremas slayer di genggamannya. Lalu dalam hatinya yang paling dalam dia mengucap, 
Ya Allah, jadikan saya anak seperti keinginan bapak, yang mempunyai kepala yang isinya seluas langit dan mempunyai hati yang sedalam lautan. Aamiin.

Air mata Rino menetes satu-satu. Ayahnya memeluknya erat. Di Puncak Garuda, disaksikan oleh Gunung Slamet, Sindoro, Sumbing, Merbabu, Ungaran, Telomoyo, dan Lawu, mereka tegak menatap ke depan. Di depan mereka yang serba indah. Seindah cita-cita mereka.

-----------------------------------

  • Dua minggu setelah dia berdiri tegak di Puncak Garuda, Rino mencoba peruntungannya dalam sebuah kejuaraan bergengsi antar siswa se-Kabupaten, dengan semangat membara yang luar biasa, yang belum pernah dipunyai sebelumnya. Lomba di tingkat kabupaten itu sukses dilakoninya. Dia berhasil menjadi Juara 1 tingkat Kabupaten, dan berhak mewakili di tingkat Provinsi Jawa Tengah.
  • Dua minggu berselang, di kejuaraan tingkat Provinsi itu, kembali Rino mempersembahkan prestasi yang mambanggakan ayahandanya. Dia kembali menjadi juara. Juara 1 tingkat Provinsi. Dan dia pun berhak mewakili Provinsi Jawa Tengah di ajang lomba serupa tingkat Nasional.
  • Di tingkat nasional, kembali Rino menunjukkan kegemilangannya. Tidak tanggung-tanggung prestasi yang diraihnya. Juara 1 tingkat Nasional, dengan menyisihkan 26 calon juara lainnya dari seluruh Indonesia. Piala Presiden yang sama tinggi dengan badannya, dia raih dengan bangga. Namanya, sampai sekarang masih terpatri di prasasti di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai siswa yang berjaya pada masanya.


Bayangan Puncak Garuda selalu ada di benaknya. Berdoa dengan perasaan sedekat itu dengan Tuhannya, dan meyakini apa yang diucapkannya, akan membawanya pada sebuah keniscayaan atas sebuah cita-cita.



Yang terbaik SD - SMP - SMA - Perguruan Tinggi 
di depan Wapres Sudharmono. Rino salah satunya



jika kamu mempunyai cita-cita,
kejarlah cita itu sampai dapat! 

(diucapkan sang ayah di Puncak Merapi)
-- Majalah Bobo --



SELESAI.
(KISAH NYATA )






355 komentar:

  1. Pertamax kah saya?? :D
    ehh ini cerita ini ternyata kisah nyata yahh, kisah seorang anak yang ingin menaklukkan puncak gunungkah, saya gak baca dari awal ceritanya, hehe
    btw mas zach jago gambar sketsa yah, suka gambarsketsa-sketsa buatan mas zach yang sering di selipkan di beberapa artikel mas zach, keren, saya pernah mencoba membuat sketsa dengan imajinasi saya, ehh malah jadi abstrak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah wah padahal saya sudah pantengin mau pertamax eh malah ketiduran tadi malam hieiehiheiheie. Gagal deh pertamax di sini hiheiheiheiee. Biar gagal pertamax untuk kesekian kalinya namun hati ini tetep hepieeeeeeeeeee

      Hapus
    2. @Mas Agung: haha... gambar saya ngaco koq Mas, ngak pake teori, asal ikut-ikutan orang-orang, hehe

      @Kang Asep: hepi selalu Kang. besok saya booking-in buat pertamax deh. wanni piroo?? hiehiehie

      Hapus
    3. ya amppuuunn....pada begadang buat posisi pertamax ya?
      heran...kalah lagi..kalah lagi..

      Hapus
    4. saya semalaman juga begadang nungguin orang-orang pade posting, dapet beberapa. cuma nggak dapet hadiah piring cantik. apalagi hadiah payung.

      Hapus
    5. jangan dipantengin pak asep...
      petromax mah mending digantungin
      *gantungin di kuncirnya bebek...

      Hapus
    6. bebek Iron Man digantungin petromax. kebayang betapa ribet tu motor

      Hapus
    7. cerita tersebut memberi inspirasi saya bahwa seorang anak perlu dukungan penuh dari orang tua..

      saya jadi malu bahwa selama ini saya kurang gigih dalam memberi dukungan kpd anak saya
      #menunduk malu

      Hapus
    8. bukan nya nanti malam mas posting nya...walah
      ketinggalan lagi :)

      Hapus
    9. @Cak Budy: iya point banget Cak. jangan malu kepada saya, tapi malulah kepada KPK, hahaha

      @Mas Budi: haha, Rabu pagi kan Mas. hidup Rabu

      Hapus
    10. emang susah dapet pertamax di artikel mas zach
      biasanya cuma kebagian sisa-sisa perjuangan :D
      abis mas zach buat artikel selalu tengah malam sambil jaga lilin, hehehe.. piss :P

      Hapus
    11. Nah Cak Budy menunduk malu ya. Jangan Jangan mau mloroting celana juga ya?

      Hapus
    12. @Mas Agung: hahaha... bukan jaga lilin, saya yang keliling kampung, yang jaga lilin di rumah udah ada, hahaha

      @Kang Asep: celana gombrang susah juga Kang kalo dipelorotin. adanya juga diputus kolornya, baru bisa lepas, hiehie

      Hapus
    13. lha wong saya udah nggak pake celana, suhu

      Hapus
    14. mburix maning aku lik :D

      Hapus
    15. suhu pake celana horor, pake kolor warna ijo. berarti?

      Hapus
    16. Berarti keren donk pastinya hiehiehie. Eala cape benar ketik komen pake mainan punya abbie ini. Ketiknya pake satu jari, telunjuk aja

      Hapus
    17. kayak lagi tunjuk jari dong "Saya Bu Guru!"

      Hapus
    18. Iya ya Kang, Kang Asep kan biasa ngetik menggunakan 12 jari

      #usus kalee

      Hapus
    19. hahaha, berarti mas zach yang suka meresahkan masyarakat selama ini, harus cepet2 di padamin tuch lilinnya :P

      Kang Asep@ jiahh nyombongin tablet barunya tuh padahal, hehehe :P

      Hapus
  2. Sungguh suatu kisah cerita petualangan yang sangat menarik nih gan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi urik rika suerrr...
      masa postingan baru 5 menit yang lalu komene wis njeprah...

      Hapus
    2. sekti Kang. jimate bin salabin, ben dadi best seller, hiehiehie

      Hapus
    3. seler be dadi best, kepiwe nek rongler..?

      Hapus
    4. hihi, (terjemahan Mas Rawin: satu batang aja jadi terbaik, gimana kalo dua batang)

      Hapus
    5. lhaaaah ada palayanan translitor yah..?
      mantap mantap...

      Hapus
    6. iya, soale akeh sing komplen wingi (banyak yang complain kemaren) haha..

      Hapus
    7. hahahahabruakatakakakakakkkkk...

      Hapus
    8. mas raw ngomongin batang apa? kenapa harus dua batang?

      #bingung

      Hapus
    9. ada translator berjalan...aseeekkk..

      Hapus
    10. @Cak Budy: tebu! (bingung juga)

      @Mbak Ay: transistor tepatnya Mbak

      Hapus
    11. transistor.. tinggal disoder beres

      Hapus
    12. Transistor itu apanya Traktor?

      Hapus
    13. aduuhhh kangen klepon sayah

      Hapus
    14. terus jurus kodok mati menahan nafsu?

      Hapus
    15. nggak ada lain, ini juragannya

      Hapus
    16. Yang aku gak habis pikir, tuh kodok menahan nafsu sampe mati gitu ya?, emang menahan nafsu apa sih?

      Hapus
  3. Wah ini kebetulan atau pa ya mas, ternyata berdoa di puncak garuda juga mustajab, setahu saya tempat doa yang mustajab ya di multazam Mekah waktu naik haji...
    Mungkin tergantung sugesti dan keyakinan masing-masing ya mas, dimanapun kita berdoa kalau yakin Allah akan mengabulkan, begitu kali ya mas...


    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe... pesan moral yang saya mau sampaikan berdoa dimanapun asal hati mantap, akan didengar Allah, Mas.

      Hapus
    2. puncak garuda tinggal kenangan
      sudah tiada lagi di dunia ini hiks..

      Hapus
    3. iya Kang...
      bagus je ya padahal.

      Hapus
    4. pastinya. kan yang mbaurekso hutan di indonesia, Mbak.

      Hapus
    5. Aku pengin Mas Raw mecahin rekor panjat seluruh Tower yang ada di Indonesia!

      #muka serius

      Hapus
    6. heee belum pernah denger aku manjat efel tower yah..?
      pan ada lagunya suka dinyanyiin si ncit...

      efelangi felangi alangkah indahmu
      nek disrampang srandal...
      *milih minggat..

      Hapus
    7. panci, srandal pada ilang gara-gara bertaburan buat nyrampang

      Hapus
    8. Heran malam malam gene pada mau mandi ke empang

      Hapus
    9. kan langsung siskamling. terus mandi lagi di empang paginya

      Hapus
    10. Besoknya langsung panuan.

      Hapus
  4. Aku belum baca semua, kang ...
    Hiks Hiks .....
    Tapi pasti aku baca semua deh ...

    Mungkin kutarik kesimpulan awal dulu aja kali yah..
    Itu gunung"nya mengingatkan aku saat jalan-jalan di Bromo. Aku lihat Gn. Semeru dari kejauhan itu tinggi banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalaw sudah urusan Gunung pasti ingatan saya ke Mas Rawins yang sudah well organized dalam urusan panjat memanjat. Tower aja sudah dipanjatin, apalagi gunung. Yang dirumah beliau juga , pastinya, sudah dipanjatin

      Hapus
    2. @Mas Indra: asik aja, yang penting kuliah dulu, baru ngeblog nanti, hehe

      @Kang Asep: haha... cuma panjat pinag aja yang belum kita dengar reputasinya.

      Hapus
    3. tanam pinang rapat rapat
      agar nguyuh tak bisa lari...

      *lagune sapalah klalen...

      Hapus
    4. yang judulnya gitar tua kan..?

      Hapus
    5. Yang pasti bukan saya yang nyanyi. Yang pasti pasti aja

      Hapus
    6. Kang Asep pegang spesialisasinya aja: kecrekan

      Hapus
    7. kecrek bukane yang di gudeg itu yah..?

      Hapus
    8. aku pegang brondong aja deh..

      Hapus
    9. glek. Mas Rudy.... dipanggil nih

      Hapus
    10. brondong mah ga ada batangnya
      biji doang mang...

      Hapus
    11. tapi batereinya orisinil

      Hapus
    12. remuk 100% makruh. tobaat

      Hapus
    13. Gak papa remuk juga, yang penting ternyata aku punya batang, walaupun masih dalam masa pertumbuhan, sudah dicek kok barusan

      Hapus
  5. kenapa naik gunung suka ngejar sunrise yah bukan ngejar sunset? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ntar kemaleman ga bisa turun..:D

      Hapus
    2. @Mas Rio: memang ada tipikal pendaki yang penikmat, juga ada yang pragmatis. kalo saya masuk yang kedua. pengin adem pas naiknya, turun masih terang, bener kata Mbak Ay.

      @Mbak Ay: iya, tepat Mbak, kalo sore sampai puncak, memang risiko kemaleman di jalan pulang, lalu kembali ke kota asal susah pula nanti.

      Hapus
    3. mau sun bebek malah disun bemo...

      Hapus
    4. mending Kang, bemo hidungnya datar. nek disun petruk, apalagi durian petruk, muka jadi remuk.

      Hapus
    5. sek sek sek pak manteb
      tak bayangin bebek diadu duren...

      *sayang seleranya brondren...

      Hapus
    6. hahaha... Ki Manteb terbukti gagal meruwat mobil, apalagi motor bebek

      Hapus
    7. gagal ruwat yah..
      pantesan apes

      sewengi jeput melek nglembur komen deneng ilang kabeh lik
      jal tiliki nang seri 1 dan jurnal sebelumnya ranana babar blash
      jempolnya sampe kriwil je...

      Hapus
    8. hahaha.. iya Kang.
      saya juga ngalamin hal yang sama. coba juga Sampeyan komen ke Mas Rudy yang angka komennya udah lebih dari 200.
      kata Mas Rudy, istilahnya kuota habis.
      munculnya di dapur blog.

      Hapus
    9. howalah...
      pantesan panciku pada ilang
      ada yang nggudeh komen di dapur yah..?

      Hapus
    10. hahaha... ternyata bener koq Mas, pada tampil di list koment di belakang layar ternyata.

      Hapus
    11. hahahaha....asem ngekek aku..:))

      Hapus
    12. haha.. makanya saya ngimbanginya dengan bijak Mbak

      Hapus
    13. Sudahlah, yang pasti aku sudah membayar kekecewaan Mas Raw dengan memberikan berpuluh-puluh komentar pada postingannya.

      #jariku ngetrill nih

      Hapus
    14. tumben gak ditranslit
      pulang ah...

      *penonton kecewa...

      Hapus
    15. bingung kie mbahas apa...koh oot :D

      Hapus
    16. Motor bebek angsa a gsa ya di panci eh salas di panci hihiihihihihi. Mas raw kalau keasyikan manjat nda mau turun

      Hapus
    17. sekali turun, ceplosannya gawat.

      Hapus
    18. Maklum saja, soalnya sudah hampir sebulan ini habis jadi Sopir Ternak Teri.

      Hapus
  6. memang punya bibit kepintaran yang sama ya di keluarga mas Roni..:)
    menurun pada anak-anak juga..

    sukses terus buat kalian..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo bibit bebetnya dah mantap
      brobotnya juga gak kalah baunya...
      *srampang srandal..

      Hapus
    2. hehe... Rino lho Mbak..
      aamiin. terima kasih doanya. sukses juga untuk Mbak Ay sekeluarga.

      hihi, Mas Rawin tampil lagi menghunjam hulu hati, seperti biasa. sepi wingi langka Rika Kang.

      Hapus
    3. habis tapa lik
      biasa njamas jimat...

      Hapus
    4. hahaha... Jumat Kliwon, 1 Syura, atau Valentine Day momennya?

      Hapus
  7. cita cita dan harapan itu berawal dari mimpi
    biar banyak harapan, marilah kita tidur...

    -- majalah bobo sama gadis ---

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe... cerdas tenan sampeyan kalo bikin ungkapan. makanya kemaren sepii nggak ada situ. asik sekarang hadir kembali

      Hapus
    2. masa sih cyuiiinnnttt...
      *ngilang lagi ah..

      Hapus
    3. lah bener, ternyata di list bacaan postingan njenengan nggak muncul.

      Hapus
    4. raw telah bangkit dari kubur...

      Hapus
    5. abis main pilem
      beranak dalam kubur..

      Hapus
    6. sama suzanna dong. apa bokir ikutan?

      Hapus
    7. Kan Mar Raw yang jadi peran penggantinya Pak Bokir.

      Hapus
  8. Tindak lanjut cerita yg penuh dengan lika liku kehidupan, sesuai dg porsinya, yg penting kita tetap semangat, bersyukur, dan tetap berdoa agar kita selalu menang
    cerita yg menarik bagus dan penuh inspiratif
    selamat dan sukses sobat

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyiikkk Pak Penyuluh. selelu menyejukkan sanubari deh. siip

      Hapus
    2. salah rika lik...
      penyuluh ya temennya perepek...

      Hapus
  9. saya bookmark dulu mas Zech. gak ada waktu tuk baca nih.. mampir sekedar silaturahmi biasa...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleeh, lain kali bawa klepon ya..

      Hapus
    2. Panci juga ya diisi bubur ayam

      Hapus
    3. Sekalian sama bebek yang dilehernya dipkein pita warna pink yaa.

      Hapus
  10. sayangnya geger boyo udah gak ada. Padahal tahun 2005 masih ada sebelum gunung merapi meletus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, 2006 kalo nggak salah ya Mas remuknya tu Geger Boyo. keren tuh membelah, kita di tengahnya difoto, bagus banget

      Hapus
  11. Bahagia-nya Rino, punya Bapak yang LUAR BIASA!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. nangkeep. yuhui banget bang Bur

      Hapus
    2. coba ya ayah sy juga begitu macam bapaknya Rino, [mimpi dulu]

      Hapus
    3. wah asyik banget pokoknya punya ayah seperti beliau

      Hapus
    4. tapi sayangnya, bapaku sudah 'alm.' ;(

      Hapus
    5. tapi sayangnya, bapakku sudah 'alm.' .. ;(

      Hapus
    6. iya Mas Ichal. Sama dengan bapak saya

      Hapus
  12. Senangnya bisa menikmati keindahan dari salah satu Ciptaan Allah Ta'ala ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mas. indahnya tak terbantahkan

      Hapus
  13. pak, Rino itu nama samaran kah? kok saya curiga ya... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe... menurut mbak Nufa gimana? asyiik.

      Hapus
    2. suspectnya ga jauh2 kok pak hehe

      Hapus
    3. haha... ngasal nih pasti nebaknya

      Hapus
  14. ntar malam aja dah sy baca ini di lepiku [lagi diwarnet skrng nh]

    BalasHapus
    Balasan
    1. asiik, makasih atas kesetiaannya. Mas Ahmad memang laki-laki sejati, hehe

      Hapus
    2. panggil saja saya IchaL ... Mas Zach juga lelaki sejati kok... hoho -_-

      Hapus
    3. eh panggil juga RizaL juga nda apa apa kok.. terserah dah diantara 2 ituh.

      Hapus
    4. eh . boleh juga panggil RizaL .. terserah deh antara 2 2 ituh

      Hapus
    5. Kalau saya kang asep, mas ichal. Tertuduh ngetop

      Hapus
  15. wah, aku sampe tertegun membaca artikelmu sob.. kisah yg bnr2 memotivasi bgt.
    beruntung sekali ya Rino

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah, ga sia sia batalin ke jakarte

      Hapus
    2. asiik buat Mas Penghuni dan Mas Rizal. bener2 telaten ya dengan ujian membaca ini, hehe

      Hapus
    3. klo tengah malam sy belum tidur.. sy mencoba untuk membaca ini, hehe

      Hapus
    4. klo ntar tengah malam masih blum tidur, sy mencoba membaca ini, hehe

      Hapus
    5. santai aja Mas, blog kan cuma selingan.

      Hapus
    6. Kalau saya nda bisa tidur, ya ditiduri dulu baru bisa. Hayuuu siapa yang minta ditiduri?

      Hapus
  16. wehh menarik sekali, apalagi bagian yang memunculkan emosi antara ayah dan putranya itu agak mengharukan juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe... itu beneran loh Mas.

      Hapus
    2. eh nama kamu Besek Bosok ... aneh. hehe bcanda

      Hapus
    3. nama rimba tuh kalo istilah pecinta alamnya

      Hapus
  17. ending yang laur biasa...

    salutt

    BalasHapus
  18. suka bgt dengan kata2 ini :
    "jika kamu mempunyai cita-cita,
    kejarlah cita itu sampai dapat! "

    Jadi termotivasi,..
    :)

    BalasHapus
  19. wah hebat masku ini rek :) petuah ortu memang membawa berkah ya mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha... hebat apa, ngarang aja nih Mas Warcoff.
      iya bener Mas.

      Hapus
  20. jawab komen di blog: pertama2, gabung di grup ini mas. ini penerbitnya SCARY MOMENTS 2 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. grup apa ya Mbak? saya bisa cek ke mana..

      Hapus
  21. hmm niat baca nih malam, tapi masih ada hambatan untuk membaca nh, bisa bisa jadi ngantuk nh.. -_- ..nonton tipi dulu dah sambil ngeblog..

    BalasHapus
  22. *naik gunung*

    Tuhan, saya ingin pergi haji berdua sama suami sebelum usia saya 35 tahun :')

    BalasHapus
  23. “Nah, itu dia, yang nggak kepikir saja bisa, apalagi yang sudah kepikir. Inilah bukti sebuah pencapaian. Susah memang pada awalnya, tapi jika kita tekun menjalaninya, pasti bisa! Pokoknya, jika kamu mempunyai cita-cita, kejarlah cita itu sampai dapat!”

    Tak ada lagi yang harus aku komentari.

    Ternyata benar dugaanku tentang siapa jati diri Rino yang sebenarnya. Cerita ini menambah rasa kagumku pada sang Merapi, dan juga pada dua tokoh utama dalam cerita ini. Senangnya bisa berinteraksi dengan salah satu putra terbaik Bangsa ini. :)

    Dan, aku tidak menemukan satupun typo(kesalahan dalam penulisan) pada tulisan ini. Selamat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...
      terima kasih untuk apresiasinya, wahai pembaca cerdas, hehe..

      Hapus
    2. Ya selamat dapat panci cantik

      Hapus
    3. Sekalian sama SPG-nya juga kan?

      Hapus
    4. Sekalian sama Mas Rawins juga kan?

      Hapus
  24. Sungguh Mas ini jadi inspirasi bagi saya sendiri.Sampai-sampai korannya Mas tampilkan disini.Luar biasa Mas.Salut saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. siip, syukurlah, saya ikut seneng, keinginan saya hanya menularkan inspirasi kepada semua teman2 disini

      Hapus
  25. Wah, gak bisa habis baca nih. Langsung komeng aja dah. Tumben cepat s'kali ngantuk malam ini..

    BalasHapus
  26. Saya pikir, cerita fiksi, ternyata cerita nyata ya?

    BalasHapus
  27. bener2 salut mas sama rino
    andai aku sepintar rino.....?

    tapi ngomong2 rino kue sapa kang,penasaran....^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oahemm hehehe artikel terbaru saya usah eh udah tyang. Sela'at membacaya. Aku turu sek yo

      Hapus
    2. yoo. jo suwe-suwe yoo turune

      Hapus
  28. bagus banget ya pemandangan di puncak merapi
    tapi ngeri juga ingat kejadian letusan kemarin dulu
    salut buat ayahnya rino dan rino juga
    ini nyata ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. pasar bubrah,...hee merinding dengernya....*d tiap2 gunung pasti ada mitos yang mewarnai...

      Hapus
    2. Hehehe lain dah yang punya hobi menggambar. Senang mewarnai hihihihihihiehiehiehie

      Hapus
  29. Kapan yaa aku bisa seperti Rino???
    Seorang backpacker sejati ... yang dari kecil memang di gembleng ayahnya untuk menjadi seorang pendaki gunung...


    Kalau kata Dewa 19,
    "Mendaki, melintas bukit.. Berjalan letih menahan berat beban. Bertahan di dalam diri, berselimut kabut Ranu Kumbolo"


    Ahh Ranu Kumbolo. Jadi inget Tanjakan Cinta aku,,,
    ingin ahh coba nanjak disitu sampai puncak, kelak nanti aku akan menikah dengan orang yang sangat aku cinta
    Hehehehe ....
    *masih jauuuhhhh* :D


    Ohya Kang Zachflazz,
    Mau numpang promo blog baru nih. Hehehe ... Follow yaah


    Hope u will follow my new one :)
    http://catatan-indrayanaenglish.blogspot.com/2013/01/a-first-introduction.html

    BalasHapus